SEKILAS INFORMASI
: - Friday, 01-05-2026
  • 5 tahun yang lalu / Selamat datang di portal resmi MAN 1 Konawe Selatan MAN 1 Konawe Selatan Bisa, Maju dan Terdepan
TERIMA KASIH, KATA MEREKA:  ROMANTISME YANG MASA BERLAKUNYA SEHARI

Penulis: Putri Dwi Humaerah, S.Pd., M.Pd.(Guru Kimia MAN 1 Konawe Selatan)

Setiap 25 November, lini masa media sosial berubah seperti festival kecil. Ucapan manis bermunculan: “Selamat Hari Guru!”, “Tanpamu aku tidak bisa jadi seperti sekarang”, hingga kalimat klasik yang tidak pernah absen: “Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.” Sehari penuh guru dipuji, diabadikan dalam foto, disanjung dengan puisi, bingkisan dan bunga mendadak menghiasi ruang guru di sekolah-sekolah, bahkan kadang diliput media. Namun, ketika hari berganti, spanduk diturunkan, dan tagar perayaan menghilang, kehidupan guru kembali pada kenyataan, jauh dari romantisme ucapan itu.

Di luar satu hari yang penuh sanjungan, guru menghadapi ruang kelas dengan dinamika yang tidak pernah sama setiap harinya. Ada siswa yang bersemangat, murung, sulit fokus, dan ada pula yang datang hanya untuk sekadar menikmati jajanan kantin. Kurikulum berubah cepat karena mengikuti perkembangan teknologi kata mereka, sementara tumpukan kertas administrasi masih menunggu di sudut setiap meja guru.

Guru diminta menyalakan cahaya belajar, meski fasilitas yang menopang mereka di desa dan di kota tidak sama kuatnya, dan sayangnya, ketimpangan ini belum pernah benar-benar menjadi perhatian mereka yang memegang kemudi kebijakan. Pada titik ini, ucapan terima kasih saja tidak cukup untuk menambal energi yang terkuras setiap hari, di setiap sisi ruang kelas.

Ironisnya, profesi yang sering disebut sebagai “pilar peradaban” justru menjadi salah satu yang paling rentan di negeri ini. Hingga kini, perlindungan hukum bagi guru masih tergolong lemah; ketika terjadi konflik dengan orang tua siswa atau masalah di sekolah, mereka kerap berdiri sendirian tanpa pendampingan. Tidak ikut viral, tidak ikut dirayakan, seakan menjadi catatan kaki yang sengaja dilupakan. Semua persoalan ini jarang muncul dalam video-video perayaan Hari Guru.

Di balik papan tulis, jam kerja guru sebenarnya tidak berhenti ketika bel pulang berbunyi. Banyak dari mereka menjadi konselor ketika siswa stres, menjadi orang tua kedua ketika murid terluka, bahkan tidak jarang menggunakan uang pribadi untuk membeli buku atau perlengkapan belajar siswa, hal kecil yang tidak pernah masuk dalam laporan resmi. Namun, ketika mereka berbicara tentang hak, sering ada suara yang muncul: “Guru itu pengabdian.” Seolah-olah saat meminta dihargai berarti kurang ikhlas.

Sangat mudah menuntut guru untuk sabar tanpa batas, mengispirasi setiap waktu, pantang mengeluh menghadapi puluhan bahkan ratusan siswa tiap harinya dan sempurna dalam segala tindakan. Padahal guru juga manusia: punya keluarga, ada lelah yang dipendam, dan ada batas kesanggupan yang kadang nyaris terlampaui. Guru bukan robot pendidikan yang bisa bekerja tanpa henti. Romantisme terhadap pengorbanan guru justru membuat kebutuhan realistis mereka terlupakan.

Bayangkan jika kita benar-benar memperlakukan guru seperti yang kita ucapkan: sebagai pahlawan. Pahlawan yang hidupnya layak, haknya dilindungi, diberi ruang untuk berkembang, dan dihormati bukan hanya dalam poster perayaan. Tetapi kenyataan hari ini menunjukkan bahwa banyak guru masih berjuang sendirian, bahkan untuk mendapatkan pengakuan yang seharusnya menjadi hak dasar mereka, sebagai manusia.

Meski begitu, banyak guru masih datang ke sekolah dengan hati yang sama setiap paginya. Mereka masuk ke kelas bukan karena sistem yang mendukung, tetapi karena tidak ingin mengecewakan murid-murid yang telah dijanjikan ilmu pada hari sebelumnya. Namun, pertanyaannya, sampai kapan ketulusan itu dibiarkan berjalan sendirian tanpa dukungan kebijakan yang benar-benar memihak?

Hari Guru seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial tahunan. Hari guru seharusnya menjadi pengingat bahwa di balik profesi yang tampak sederhana ini, ada tanggung jawab besar dan beban yang tidak selalu terlihat. Guru bukan hanya butuh ucapan, tetapi juga penghargaan nyata, kebijakan yang adil, dan dukungan yang berkelanjutan. Karena pendidikan yang baik tidak mungkin lahir dari guru yang terus dibiarkan bertahan sendirian di medan yang seharusnya menjadi tugas bersama.

Sekali lagi kepada Guru PNS, Guru PPPK, Guru Honorer, Guru Negeri, Guru Swasta, Guru TK/RA, Guru di SD/MI, Guru di SMP/MTs, Guru di SMA/MA/SMK, Guru di Pesantren, Guru Kelas, Guru BK, Guru Mata Pelajaran, Dosen dan semua Guru-guru lainnya,

Selamat hari guru, untuk kita semua”.

1 komentar

Astuti, Wednesday, 19 Nov 2025

Selamat hari guru💞

Reply

TINGGALKAN KOMENTAR

MAPS SEKOLAH

Agenda