SEKILAS INFORMASI
: - Saturday, 02-05-2026
  • 5 tahun yang lalu / Selamat datang di portal resmi MAN 1 Konawe Selatan MAN 1 Konawe Selatan Bisa, Maju dan Terdepan
Artificial Intellegence dan Problematika Siswa Gen Z

Oleh: Sarfilawati, S.Pd (Guru Sejarah MAN 1 Konawe Selatan)

Tugas dapat diselesaikan oleh mesin, jawaban dapat dirangkai oleh algoritma, dan pengetahuan dapat dihadirkan hanya dalam hitungan detik. Namun ada satu ranah yang tak mudah dijangkau teknologi: hati tempat nilai ditanamkan, nurani tempat kejujuran ditegakkan, dan jiwa tempat adab dibentuk. Di tengah kemajuan teknologi yang melesat cepat, kita justru menyaksikan kenyataan yang memprihatinkan. Tidak sedikit siswa cakap menggunakan gawai, tetapi gagap dalam sopan santun, cepat mencari jawaban, tetapi lambat menghargai guru, mahir mengakses informasi, tetapi miskin tanggung jawab dan etika. Kecerdasan seakan bertambah, namun adab perlahan memudar.  Menolak teknologi adalah kemunduran, namun mengabaikan adab adalah kehancuran karakter. Sekolah masa depan harus mampu menciptakan ekosistem di mana siswa tidak hanya menjadi Tech-Savvy (mahir teknologi), tetapi juga Soul-Wise (bijak secara batin). Pendidikan bukan sekadar mencetak anak yang pandai menjawab soal, melainkan membentuk pribadi yang tahu cara menghormati, bersikap jujur, dan berperilaku mulia. Maka, ketika AI mampu membantu tugasmu, bisakah ia membentuk adabmu?

Guru tetap menjadi poros utama. Bukan sebagai pemegang monopoli ilmu, melainkan sebagai penjaga etika. Guru mengajarkan bagaimana menyaring informasi, bagaimana berdebat dengan argumen yang sopan, dan bagaimana menggunakan teknologi (AI) untuk kemaslahatan orang banyak, bukan untuk merendahkan sesama. Namun, munculnya kasus-kasus yang viral dalam beberapa waktu terakhir menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan. Krisis adab yang terjadi di era digital tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata, melainkan sebagai problem sistemik dalam pendidikan. Sistem pendidikan yang kurang menekankan internalisasi nilai adab berpotensi melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual tetapi lemah dalam tanggung jawab moral. Dalam konteks erat teknologi (AI), persoalan ini semakin nyata. Ketika adab tidak menjadi fondasi,  Teknologi (AI) berisiko dipandang sekadar alat untuk memperoleh hasil instan, bukan sarana untuk memperdalam pengetahuan. Akibatnya, lahir kebiasaan bergantung pada mesin, melemahnya daya kritis, dan menurunnya penghargaan terhadap kerja keras.

Solusi atas krisis adab bukan terletak pada penambahan kurikulum semata, melainkan pada penanaman adab sebagai inti dari pendidikan. Sebab krisis yang kita hadapi hari ini bukan kekurangan materi pelajaran, melainkan kekosongan teladan, melemahnya pembiasaan nilai, dan pudarnya rasa hormat dalam kehidupan sehari-hari. Sekolah dapat menambah mata pelajaran sebanyak apa pun, tetapi tanpa budaya saling menghargai, kejujuran, disiplin, dan keteladanan, pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang kaya pengetahuan namun miskin kebijaksanaan. Adab harus hadir dalam cara guru mengajar, cara siswa belajar, cara orang tua mendidik, hingga cara masyarakat memberi contoh. Karena sejatinya, adab bukan pelengkap pendidikan, melainkan fondasi yang menentukan ke mana ilmu akan diarahkan, menjadi cahaya peradaban atau justru alat kerusakan.

Guru merupakan cahaya yang menerangi jalan ilmu, menuntun arah moral, dan menyalakan harapan bagi masa depan bangsa. Di tengah zaman yang dipenuhi kecanggihan teknologi, cahaya guru dibutuhkan bukan hanya untuk mencerdaskan pikiran, tetapi juga untuk menghidupkan hati nurani. Sebab teknologi dapat memberi jawaban, tetapi gurulah yang menanamkan kebijaksanaan dalam menggunakan jawaban itu. Pada akhirnya, masa depan bangsa tidak semata ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang diciptakan, seberapa cepat informasi disebarkan, atau seberapa tinggi kecerdasan yang dimiliki, melainkan oleh seberapa luhur adab generasi yang dibentuk. Mesin mungkin mampu mencerdaskan pikiran, mempercepat pekerjaan, dan mempermudah kehidupan, namun ia tidak mampu menanamkan kejujuran, mengajarkan ketulusan, ataupun menumbuhkan rasa hormat kepada sesama.

Guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, tetapi penuntun arah di tengah kebingungan zaman. Dari lisan guru lahir nasihat, dari sikap guru tumbuh keteladanan, dan dari kesabaran guru terbentuk karakter yang kelak menopang kehidupan bermasyarakat. Ketika seorang siswa lupa batas, guru mengingatkan. Ketika seorang anak kehilangan semangat, guru menyalakan harapan. Ketika ilmu mulai menjauh dari nilai, guru mengembalikannya pada kemuliaan tujuan. sebesar apa pun kemajuan teknologi, cahaya seorang guru tidak akan pernah redup. Sebab ketika ilmu bertemu adab di tangan seorang guru, di sanalah lahir manusia yang bukan hanya pintar, tetapi juga bermartabat. Dan ketika manusia bermartabat tumbuh dalam jumlah yang banyak, di sanalah peradaban menemukan masa depannya. . Dari genarasi z seperti inilah akan lahir masyarakat yang saling menghormati, pemimpin yang amanah, ilmuwan yang rendah hati, serta generasi-generasi yang menggunakan kecerdasannya untuk kemaslahatan, bukan kerusakan. Karena bangsa yang besar tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi dan kekuatan ekonomi, tetapi oleh manusia-manusia yang tahu batas, menjaga nilai, dan menjunjung adab dalam setiap langkahnya.

“Ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa kayu bakar, dan adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad.”

Imam Al-Ghazali

TINGGALKAN KOMENTAR

MAPS SEKOLAH

Agenda