SEKILAS INFORMASI
: - Friday, 23-02-2024
  • 3 tahun yang lalu / Selamat datang di portal resmi MAN 1 Konawe Selatan MAN 1 Konawe Selatan Bisa, Maju dan Terdepan
Daya Juang Jalan menuju Prestasi

Mengenal Daya Juang

Teori daya juang (Adversity Quetiont) diperkenalkan oleh Paul G. Stoltz sekitar awal tahun 2000-an. Dalam bukunya Adversity Quetiont: Turning Obstachles into Opportunities, Stoltz mengatakan bahwa daya juang (Adversity Quetiont) merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengamati kesulitan dan mengolah kesulitan tersebut dengan kecerdasan yang dimiliki sehingga menjadi sebuah tantangan untuk diselesaikan. Teori ini lahir dari sebuah pertanyaan mendasar tentang “mengapa ada orang-orang yang mampu bertahan, sementara orang lain gagal atau mengundurkan diri?”. Butuh waktu 19 tahun Stoltz untuk menjawab hal ini. Ia menemukan bahwa kebanyakan orang berhenti berusaha sebelum tenaga dan batas kemampuan mereka benar-benar teruji. Orang-orang yang terus berjuang menganggap kesulitan merupakan tantangan, setiap tantangan merupakan peluang dan setiap peluang harus disambut. Dalam teori ini, kesuksesan merupakan proses bagaimana seseorang bergerak ke depan dan ke atas, terus maju dalam menjalani hidupnya, kendati terdapat berbagai rintangan atau bentuk-bentuk kesengsaran lainnya

Fakta Daya Juang Siswa Masa Kini

Salah satu perubahan mengkhawatirkan dalam diri siswa masa kini, yakni merosotnya daya juang mereka terutama dalam aspek akademik. Cukup mudah menelusuri hal ini. Pertama, pemberian tugas yang dianggap membebani mereka. Ketika tugas diberikan oleh guru sinisme mulai tampak dari raut wajah siswa. Bagi siswa, tugas yang diberikan oleh guru merupakan rencana guru yang dilakukan secara sadar untuk mengurangi waktu internetan mereka sehingga secara psikologi dianggap akan membebani. Hal ini terkonfirmasi dalam laporan tugas siswa yang disajikan apa adanya tanpa memperhatikan kerapian dan organisasi isi yang minim. Bahkan, menurut Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud RI tahun 2020, dari 102.045 siswa yang dijadikan sampel, sebanyak 66,5% tidak mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Kedua, rendahnya daya juang (Adversity Quetiont) siswa tergambarkan melalui siswa yang mudah menyerah dalam menyelesaikan soal asesmen baik asesmen harian maupun asesmen akhir semester. Menurut, Fahrul Panjaitan, pendiri Pelatihan Olimpiade Sains Indonesia (POSI) dari 90 menit waktu pengerjaan yang disediakan dalam suatu asesmen, rata-rata siswa hanya memanfaatkan waktu 10-30 menit untuk mengerjakan soal asesmen.  Siswa merasa pasrah dan tak berdaya sehingga mereka meyakini bahwa apa yang telah mereka kerjakan selama waktu tersebut merupakan batas kemampuannya. Padahal, masih ada sisa waktu yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan soal-soal asesmen. Bagi siswa, mengakhiri asesmen lebih cepat merupakan suatu kesuksesan karena kesulitan yang dihadapi dianggap sebagai akhir dari perjuangan.

Beberapa penelitian tentang merosotnya daya juang siswa masa kini telah banyak dilakukan. Salah satunya penelitian yang dilakukan oleh Melly Kiong, pendiri Center of Motherhood dan Rumah Moral menyatakan bahwa generasi muda sekarang memiliki kecakapan mengatasi permasalahan yang rendah. Salah satunya dipengaruhi oleh fasilitas dan perkembangan teknologi. Mereka tidak mau/tidak mampu melakukan tugas atau pekerjaannya padahal mereka mampu berjam-jam di depan perangkat teknologi, baik handphone (HP) maupun komputer untuk membuka sosial media atau bermain game. Akibatnya, mereka terkena penyakit mental, seperti malas berusaha, mudah putus asa, tidak bertanggung jawab, tidak disiplin, bangga dengan fasilitas mewah, tidak mampu menyelesaikan masalah, menyerah dengan keadaan

Hasil riset Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Balitbang Kemendikbud RI Tahun 2017 menemukan bahwa daya juang (Adversity Quetiont) memiliki kontribusi yang signifikan (16,5%) terhadap kompetensi akademik siswa. Daya juang memiliki keterkaitan erat dengan orientasi masa depan siswa. Riset yang dilakukan oleh J,W Lau pada tahun 2021 menunjukkan bahwa siswa yang optimis, tangguh dan pantang menyerah serta berani menghadapi tantangan akan mampu menghadapi dan menyelesaikan permasalahan, khususnya dalam mempersiapkan masa depannya. Semakin tinggi daya juang yang dimiliki seseorang maka akan lebih baik orientasi masa depan seseorang

Riset lain dilakukan oleh Phoolka & Kau pada Tahun 2022 menemukan bahwa kesulitan memang menantang, namun dapat memunculkan hal-hal yang belum dimanfaatkan dengan baik pada setiap individu. Untuk merespon kesulitan tersebut, Carol Dweck merekomendasikan harus bersikap optimis. Menurutnya, anak-anak yang merespon secara optimis akan banyak belajar dan lebih berprestasi dibandingkan dengan anak-anak yang memiliki pola pesimis.

Menumbuhkembangkan Daya Juang dalam Diri Siswa

Daya juang (AQ) perlu pembiasaan dalam diri siswa, agar ketika bersosialisasi di masyarakat maupun tempat kerja tidak heran dengan masalah dan tantangan yang ada. Dalam lingkungan sekolah, menumbuhkembangkan daya juang dalam diri siswa dapat dimulai dengan menciptakan iklim kompetitif bagi semua siswa. Lingkungan yang kompetitif memacu siswa untuk siap berkompetisi dan berdaya saing sekaligus melatih kepercayaan diri dan jiwa sportifitas mereka. Ciri lingkungan yang kompetitif ditandai dengan terbukanya ruang kreativitas bagi semua kalangan siswa sehingga mereka berani mengambil resiko. Saat gagal guru perlu memberikan respon konstruktif agar anak dapat bangkit dan tidak terlalu terpuruk.

Stolz mengemukakan konsep LEAD (Listened, Explored, Analized, DO) untuk menumbuhkembangkan daya juang. Majalah Quantum Edukasi menjabarkan secara spesifik penerapan konsep LEAD tersebut bagi siswa sebagai berikut.

  1. Ajarkan anak untuk mendengarkan dengan baik. Berikan contoh pada anak bagaimana mendengarkan orang lain dengan penuh perhatian. Selalu berikan waktu untuk anak untuk berbicara dan mendengarkan pendapat mereka dengan seksama.
  2. Dorong anak untuk menggali penyebab masalah. Ajarkan anak untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah dan mengambil langkah konkret untuk menyelesaikan masalah tersebut.
  3. Bantu anak untuk menganalisis masalah. Ajarkan anak untuk memikirkan faktor-faktor yang menyebabkan masalah terjadi dan menemukan solusi terbaik untuk menyelesaikannya.
  4. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan. Berikan anak kesempatan untuk mencoba menyelesaikan masalah dan membuat keputusan sendiri. Berikan dukungan pada anak untuk mencoba lagi jika gagal pada percobaan pertama.
  5. Berikan pujian dan umpan balik yang konstruktif. Berikan pujian pada anak ketika mereka berhasil menyelesaikan masalah dan berikan umpan balik yang membantu mereka meningkatkan kemampuan mereka di masa depan

Sebuah pembelajaran

Seringkali kita mendengarkan cerita orang sukses yang benar-benar dimulai dari nol. Kisah mereka cukup menguras emosi dan air mata. Bagaimana tidak, perjalanan hidup mereka penuh derita, sengsara dan serba kekurangan. Keterbatasan merupakan bukan suatu kegagalan. Ada sisi kepuasan jika manusia selalu bersyukur. Kenapa disyukuri? Karena mereka menyadari betul dengan berbagai penderitaan yang pernah dialaminya dan mampu dilampuinya itulah yang mengantarkannya pada sebuah keberhasilan yang gemilang.

Majalah populer “Luar Biasa” pernah menyajikan suatu kisah menarik tentang makna daya juang. Diceritakan ada suatu event perlombaan, yang penghargaan dan apresiasi luar biasa justru diberikan kepada peserta yang mencapai garis finish paling akhir dibandingkan dengan peserta yang mencapai garis finish paling awal. Keputusan tersebut menimbulkan kontroversi. Ternyata penghargaan ini diberikan kepada seseorang yang memiliki daya juang yang mengagumkan. Betapa tidak, hanya tinggal seorang diri, terseok-seok, berlumuran darah, bercucuran keringat dan air mata tetap semangat menuju ke garis finish. Dan yang paling mengagumkan ketika ditanya kenapa Anda tetap bersemangat menuju garis finish, meski tidak mungkin menjadi juara? Jawabnya, “Saya diutus negara ke sini bukan untuk Start, tetapi untuk Finish”.

Kisah terkenal lain tentang daya juang, yakni kisah Thomas Edison, yang membutuhkan lebih dari 20 tahun dan 50.000 kali percobaan untuk menemukan baterai yang ringan, tahan lama, dan efisien sebagai catu daya mandiri, menceritakan seseorang yang mempertanyakan usaha-usaha yang telah dilakukan Edison. “Mr.Edison, Anda telah gagal 50.000 kali. Apa yang membuat Anda berpikir bahwa pada akhirnya Anda akan mendapatkan hasil?” Edison menjawab, “Hasil? Saya telah mendapatkan banyak hasil. Saya tahu 50.000 hal yang tidak akan berfungsi!”

Dua kisah di atas, contoh nyata tentang arti kegigihan yang sesungguhnya. Semakin bertambahya usia semakin berat tantangan kehidupan yang akan dihadapi oleh siswa. Mereka akan dituntut kedewasaan cara berpikir dan mengambil keputusan serta sanggup menerima konsekuensi hidup yang mereka pilih.

Penulis: Zulham Alfari, S.Pd.,M.Pd

TINGGALKAN KOMENTAR

MAPS SEKOLAH

Agenda