SEKILAS INFORMASI
: - Sunday, 05-04-2026
  • 5 tahun yang lalu / Selamat datang di portal resmi MAN 1 Konawe Selatan MAN 1 Konawe Selatan Bisa, Maju dan Terdepan
Ritual Lebaran yang Bikin Kantong Sekarat Tapi Hati Tetap Hangat

Oleh : Rika Miliyanti, S.Pd.,Gr. (Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Konsel)

Lebaran selalu datang dengan dua rasa: bahagia dan was-was melihat saldo rekening. Di satu sisi, Idulfitri adalah momen sakral—penuh makna spiritual, silaturahmi, dan kebahagiaan bersama keluarga. Di sisi lain, ia juga identik dengan “ritual-ritual wajib” yang sering kali bikin kantong megap-megap. Mulai dari belanja baju baru, kue Lebaran, hingga tradisi bagi-bagi THR, semua terasa seperti paket lengkap ujian iman dan dompet.

Ritual pertama : baju baru. Ada keyakinan tak tertulis bahwa Lebaran harus tampil fresh. Padahal, makna Idul fitri bukan tentang penampilan, melainkan tentang kembali ke fitrah—jiwa yang bersih, hati yang lapang. Tapi realitanya, pusat perbelanjaan selalu penuh, diskon di mana-mana, dan “lapar mata” jadi penyakit musiman. Akhirnya, yang fitrah bukan cuma hati, tapi juga dompet: kosong.

Ritual kedua : kue Lebaran dan hidangan spesial. Nastar, kastengel, rendang, opor, ketupat—semuanya seakan “wajib hadir”. Masalahnya, tradisi ini sering berubah dari makna berbagi menjadi ajang pembuktian sosial: siapa yang paling lengkap, paling banyak, dan paling “wah”. Tanpa sadar, Lebaran jadi ajang kompetisi tak kasatmata yang bikin pengeluaran membengkak.

Ritual ketiga : THR dan amplop Lebaran. Memberi itu indah, tapi ketika jumlahnya tak sebanding dengan kemampuan finansial, yang ada justru stres terselubung. Banyak orang memaksakan diri demi menjaga gengsi sosial, bukan demi makna berbagi yang tulus.

Namun, Lebaran sejatinya bukan tentang seberapa tebal amplop, seberapa mahal baju, atau seberapa mewah hidangan. Lebaran adalah tentang makna: memaafkan, menyambung silaturahmi, dan membangun kembali hubungan yang sempat renggang. Lebih baik sederhana tapi bermakna, daripada mewah tapi penuh beban.

Lebaran yang dewasa secara finansial adalah Lebaran yang sadar prioritas. Belanja secukupnya, berbagi semampunya, dan bersilaturahmi setulusnya. Karena pada akhirnya, yang paling diingat orang bukan isi meja makanmu, tapi sikap dan hatimu.

Jadi, kalau Lebaran kali ini kantong “sekarat”, jangan minder. Bisa jadi justru itu tanda kamu sedang belajar makna Lebaran yang sesungguhnya: bukan soal pamer kemewahan, tapi tentang merayakan kemenangan dengan kesederhanaan dan keikhlasan.

Selamat Hari Idul Fitri 1447 H. 

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

TINGGALKAN KOMENTAR

MAPS SEKOLAH

Agenda